Sabtu, Februari 07, 2015

Surat yang Tetap Terlipat



Hai, kemarilah. Duduklah bersamaku barang sebentar. Kita minum kopi dan bersantai bersama nikmati suasana. Biarkan aku membacakan sebuah surat yang ingin kukirimkan pada seseorang di sana. Dengarkan dulu dengan sabar. Jangan, jangan tertawa dulu ataupun mengejekku sebelum aku kelar. Uhm, tes tes. Sudah siap?

“Teruntuk yang telah melepaskan masa lajang,

Bagaimana kau di sana? Sudah lama kita tak pernah bersua. Sejak kapan? Lima tahun? Bukan, sepuluh tahun yang lalu tepatnya. Terakhir kali kita bertemu adalah di hari kelulusan kita, di saat kita berdua masih bocah ingusan. Kau masih ingat? Kita berpisah dengan menyisakan sedikit luka.

Maaf mungkin kau menganggapku sedikit lancang (atau bahkan jalang). Tapi sungguh aku tak bermaksud menggali kenangan yang sudah lama terkubur dan perlahan menghilang. Memang, dulu aku sempat menyukaimu bahkan terang-terangan. Orang bilang itu cuma cinta monyet. Atau malah kamu memang cinta pertamaku? Ah, aku tak tahu. Namanya juga bocah, suka sok fasih bicara cinta padahal belum tahu benar itu makanan apa. Juga belum pernah merasa kecewa karena cinta. OK, cukup tentang kita. Nanti malah ada yang marah. :P

Oiya, kulihat kamu sudah menikah. Aku tahu dari akun media sosialmu. Kau tampak begitu bahagia di fotomu dengannya. Senyummu begitu merekah. Dan kau masih tetap sama, tampak seperti kucing saat kau tertawa. Aku ikut senang, meski sempat merasa ada yang hilang. Entah, aku tak tahu apa yang kurang. Mungkin karena kabarnya sedikit mengejutkan.

Maaf, aku tidak bisa datang waktu itu. Bukan, bukannya aku tak mau. Namun jaraklah yang mengganggu dan waktu yang tak mau menunggu. Sungguh, kalau boleh aku bicara, aku benar-benar ingin menjadi salah satu saksi dari hari bahagiamu. Melihatmu tersenyum sebagai pengantin baru. Tapi apalah dayaku karena begitulah adaku kala itu.

Eh, boleh aku bertanya? Apa kamu bahagia sekarang? Pertanyaan retoris ya? Hahaha, OK, aku ganti pertanyaannya. Bagaimana rasanya menjadi seorang suami? Bagaimana rasanya memiliki istri? Sungguh aku iri. Sering aku melamun seorang diri, kapan aku akan segera mengakhiri masa lajang ini. Tapi tampaknya Tuhan masih tak rela aku bersuami.

Well, selamat atas pernikahanmu. Selamat karena kau telah melepas masa lajangmu. Maaf karena aku mengucapkannya hanya lewat surat dan bahkan sedikit terlambat. Semoga kalian bahagia sampai akhir hayat. Sampai bertemu di saat yang mungkin tepat untuk membagi cerita yang pernah terlewat. :D


Aku, yang suka mengenangmu sebagai cinta monyetku.”

Bagaimana? Kau menyukainya? Cheesy ya? Baiklah, akan kusimpan saja surat ini dan membiarkannya tetap terlipat rapi. Ayo, kita minum kopi lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar