Senin, Februari 09, 2015

Jarak, Waktu, dan Kita



Teruntuk:
Dia yang terpisahkan oleh jarak

Sayang, aku tahu ini berat. Aku juga sependapat. Tapi apa kamu masih ingat tentang janji cinta yang pernah tertambat? Bahwa kita akan selalu berusaha kuat untuk tetap berpegangan erat. Memang bukan tangan yang tergenggam, namun hati yang selalu terikat.

Sayang, aku tahu ini sulit. Hati, kepala, dan perutku pun sering melilit. Apalagi ketika handphone ku tak kunjung bunyi tulat tulit. Belum lagi ketika pesan suka tercepit karena sinyal yang agak sulit. Kadang hati juga sakit saat kudengar kamu harus hidup irit. Duh, pengennya kukirim duit meski barang sedikit. Tapi sayang seringnya dompetku juga lagi sempit.

Sayang, aku tahu ini memang tak mudah karena jarak yang tak kunjung memudar. Masih harus mengarungi lautan hanya untuk bertemu sang pacar. Rindu yang terus tersimpan perlahan menjadi begitu besar dan mulai mengakar.  Seringnya tak bisa aku menahan dan akhirnya dia menguar keluar. Seakan ingin berkoar-koar sambil mencakar-cakar jarak yang terhampar begitu lebar. Surat cinta pun seperti tak mampu lagi mengungkapkan meski sudah ditulis berlembar-lembar. Belum lagi kalau kita sedang bertengkar. Tak cukup rasanya hanya mendengar suaramu dari pemancar. 

Sayang, aku tahu ini melelahkan karena jarak yang memisahkan. Ratusan kilometer di seberang lautan, sesuatu yang tak pernah lepas dari ingatan. Pagi, siang, sore, mapun malam selalu kuhitung kapan kau akan pulang membawa rindu yang telah lama tersimpan. Detik, menit, pun jam selalu kuhitung kapan aku bisa menghambur ke dalam pelukan. Menikmati sebuah atau bahkan puluhan kecupan tanpa harus memikirkan kapan jarak akan (lagi) memisahkan.

 Sayang, jarak memanglah nakal. Kadang dia membuatku berpikir liar, dan bahkan jadi binal. Bukan, bukan aku ingin selingan. Hanya saja aku juga punya keinginan dan kekhawatiran. Kalau boleh jujur, aku juga cemburu meski aku sering tidak mengaku karena malu. Tapi begitulah aku ketika kau bercerita sedang keluar dengan teman sekantormu. Bukan, bukannya aku ingin mengekang. Hanya saja aku merasa sudah lama menunggumu pulang dan ingin selalu disayang-sayang. Aku tahu sayang, kamu tidak macam-macam, tapi tetap saja, wanita itu punya intuisi yang terlewat tajam. Hal kecil saja bisa menghunjam hatinya begitu dalam. Jadi pahamilah jika aku tetiba menjadi muram.

Untuk itu sayang, aku minta bersabarlah. Bersabar dan mengalah padaku yang kadang perasaannya tak tentu arah. Tenanglah, karena aku tidak akan pernah lelah. Aku akan tetap berdiri setia tanpa mengenal kata kalah pada jarak yang tak pernah menjadi ramah. Untuk itu sayang, jagalah hatiku yang sebelah karena di sini aku menjaga hatimu yang setengah.

Sayang, aku minta mengertilah jika aku tetiba menjadi begitu marah padahal kamu belum tentu bersalah. Mungkin perasaanku sedang sedikit lemah atau sekedar gerah. Mungkin juga aku hanya butuh kamu yang meyakinkanku bahwa cinta kita tidak berat sebelah. Kadang aku juga butuh kata-kata untuk menenangkan hatiku yang gundah. Sayang, berhati-hatilah di pulau sebelah.

Tertanda,
Aku yang menunggu di ujung jarak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar