Minggu, November 22, 2009

My Freya, My Rain

Pagi ini hujan mengguyur membasahi bumi. Kurebahkan diriku di lantai depan gedung kuliahku dengan kedua tangan menyangga kepalaku. Kurasakan dingin mulai menyerang. Kurebahkan diriku di sampingnya, mendekat padanya. Mencoba mencari sedikit kehangatan. Hmmm...

Kulihat langit mendung. Kupandangi tetes-tetes hujan yang turun. Aku tersenyum. Aku selalu menyukai hujan. Terasa sejuk dalam pikirku, menenteramkan relung hatiku. Aku merasakan seolah tetes embun membasahi jiwaku. Terbersit ingatan akan peristiwa masa lalu dalam benakku. Ya, aku menyukai hujan karena banyak hal terjadi dalam hidupku saat hujan turun. Terutama kisahku dengannya.

Kala itu pertama kali kulihat dia, dengan rambut hitam yang tergerai indah, berlari menembus hujan tanpa ragu. Wajahnya tersenyum riang. 'Aneh', pikirku. 'Mengapa dia malah tersenyum?' Aku pun terbawa olehnya dan tersenyum dalam hati. Kupandangi punggungnya yang perlahan-lahan pergi menjauh dari tempatku terpaku.

Kala itu pertama kali aku berkenalan dengannya. Hujan turun. Aku berteduh di depan sebuah gedung menunggu hujan reda. Dia datang, berhenti tepat di sampingku. Kutengokkan wajahku memandang dia. Wajah manisnya tampak dalam pandanganku. Dia melihatku, tersenyum. Kubalas senyuman itu, kemudian aku terdiam. Perang batin terjadi dalam diriku. Perang antara logika dan perasaanku. Akhirnya logika-ku harus tunduk pada perasaanku yang membara seolah membakar seluruh jiwa. Kuberanikan diri untuk bertanya siapa namanya. "Freya". Suaranya nan merdu mengalun di telingaku. Nama itu pun terus terngiang.

Kala itu pertama kalinya kita berjalan berdua. Menyusuri lorong hening, hanya rintik hujan yang terdengar oleh kita. Semilir angin berhembus menyentuh wajahku lembut, membelai indah rambutnya. Dingin. Kurapatkan jaketku dan mendekat kepadanya. Banyak cerita dia ucapkan, sejuta kisah kudengar tentang dirinya.

Kala itu pertama kalinya kuberanikan diri menyatakan perasaanku padanya. Dadaku berdegup kencang layaknya guntur yang menggelegar. Langit kala itu mendung seolah mengerti keadaan hatiku yang terselimuti oleh kabut ragu. Akhirnya kuyakinkan diriku tuk mengungkapkan perasaanku padanya. Menyatakan bahwa aku mencintainya. Kukalahkan keraguan itu, kuhilangkan kabut sendu.

Kala itu pertama kali kudengar jawabnya. Tak kuasa aku menahan haru. Hujan gerimis menyejukkan hati seolah tahu bahagiaku kini. Kupeluk dirinya erat. Kucium harum rambutnya, wangi tubuhnya. Saat yang tak akan pernah kulupa sampai akhir dunia.

Kini, aku telah benar-benar yakin bahwa dia memang untukku dan aku telah tercipta untuk menemaninya. Tiada ragu dalam hatiku. Karena aku yakin di sinilah tempat kita seharusnya berada. Bukan sebuah kebetulan aku melihatnya kala itu. Melainkan sudah seharusnya kita bertemu. Bukan pula ketidaksengajaan kita berkenalan. Melainkan sebuah rencan Tuhan yang telah tersusun dengan indahnya untuk kita.

Hujan telah reda. Aku pun bangkit dari lamunanku akan dirinya. Ya, kini aku benar-benar yakin bahwa dia yang terbaik bagiku. Aku mulai berdiri perlahan. Kurentangkan kedua tanganku, kuhirup udara segar sehabis hujan. Kupalingkan wajahku kepadanya. Dipalingkannya wajahnya menatapku, tersenyum dengan senyuman manisnya. "Ayo Freya kita pergi." Dia pun bangkit berdiri mengikutiku. Kusentuh tangannya lembut. Kugenggam erat. Tak akan pernah kulepas sampai hujan tak lagi mengguyur membasahi bumi. Aku berjanji.

2 komentar:

  1. gud!!.. I like this... ^^8

    meskipun bentuknya mirip postQ yang terakhir, tapi ini bagus... ^^

    terus menulis ya.. :)

    LIKE THIS!

    BalasHapus
  2. haha makasih meski rada mirip seh,,,,,

    benernya udh kapan tuh mau di post in tapi gak bisa bisa log in,,, hiks...

    BalasHapus