Selasa, Februari 17, 2015

Si Penerima Pelukan



Kepada
Penerima pelukan, salah seorang teman setiaku

Sebentar aku terduduk, dan kemudian memikirkanmu. Jadi, kutulis saja sebuah surat untukmu meski mungkin tidak tersampaikan padamu dan tidak akan pernah kau baca. Tapi percayalah, surat ini cerminan rasaku padamu.

Teringat olehku tentang semua hadirmu dalam setiap hariku. Kau selalu melihatku dalam diam saat terang ataupun ketika kelam. Kau menatapku dalam senyap, dalam tangisanku pun dalam tawaku yang penuh harap. Kau berdiri dalam bisu, dalam rapuhku pun ketika bahagiaku.

Diammu menenangkan. Senyapmu mendamaikan. Bisumu menentramkan.
Satu pelukmu hilangkan sebuah tangisan. Wangi tubuhmu hadirkan senyuman. Cukup dengan hadirmu mampu berikan semua angan.

Belum lama memang kita berkenalan, tapi kamu tak pernah absen dari hadapan.
Hai, Teddy Bear-ku, kau hadiah terindah yang pernah aku dapatkan. Terima kasih untuk semua cinta yang ada.

Tertanda,
Pemelukmu

Senin, Februari 16, 2015

Kepada yang Mudah Datang dan Mudah Pergi



Malang,
Tengah bulan Februari Tahun Dua Nol Satu Lima

Dear,
Kamu yang datang dan pergi sesuka hati

Pasti kamu nggak menyangka kalau aku akan menulis satu surat untukmu. Kalau kata peribahasa mungkin bagai mendengar petir di siang bolong ketika kamu enak-enak molor pakai celana kolor? Sama, aku juga heran kok dengan diriku sendiri. Kenapa tiba-tiba aku ingin mengirim sebuah surat kepada kamu yang selama ini datang dan pergi sesuka hati. Mungkin aku sudah kadung sebal sama tingkahmu yang suka seenaknya sendiri tanpa tahu seberapa besar rindu yang ada di hati ini. Eciyeee kok jadi puitis gini ya? Tenang aja. Ini bukan surat cinta kok. Ini cuma sebuah surat tagihan utang pelampiasan aja.

Kamu ingat nggak sama secuil lirik lagu abang Bruno Mars yang bilang “easy come easy go”? Kamu tau artinya? Nggak? Wah aku lupa kalau kamu nggak suka Bahasa Inggris. Sini aku kasih tau; kalau kata orang picisan, yang mudah didapat itu akan mudah hilang juga. Semacam jailangkung kali ya. Datang tak diundang pergi minta tak diantar. Apa jangan-jangan kamu termasuk dalam kategori itu? Hiiiy sereeem.
 
Tapi jujur aja, aku tidak merasa mendapatkanmu dengan begitu mudahnya. Bahkan nggak jarang aku harus berpuasa lama dan tirakad di gunung kawi hanya sekedar menunggu kamu datang. Ya macam menunggu hari raya idul fitri setelah puasa ramadhan gitu lah. Sering juga aku harus memeras peluh sampai seember penuh hanya demi mengejarmu. Bayangkan, atlit marathon aja kalah. Belum lagi waktu yang aku habiskan cuma demi menunggumu. Tapi nggak hanya sekali dua kali kamu mengingkari janji dan akhirnya membiarkan aku tetap menanti sesuatu yang belum pasti. Dan sekalinya kamu datang secepat kilat kamu pergi lagi dan membuatku menunggu lagi. Begitu seterusnya. Aku jadi merasa seperti hamtaro yang berlari di atas roda putarnya. Apa yang paling dia senangi??? *kok jadi nyanyi* Padahal aku sudah berusaha sebisaku untuk menyambutmu dan menjagamu dengan baik. Tapi tetap saja semua itu tidak cukup bagimu kan? Kamu tetap pergi menjauh.
 
Tapi apa kamu tahu? Semudah atau secepat apapun kamu pergi dan membuat aku sebal lagi, aku tetap butuh kamu. Aku tetap akan terus tersenyum menyambut kehadiranmu kayak orang dungu. Dan aku selalu ingat kalau aku begitu menyukaimu dalam balutan gaun merahmu. Kamu begitu bergairah, memesona, dan juga…seksi; selalu bisa membuatku terperangah. Gaun birumu juga ayu. Tapi nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini kamu malah suka memakai gaun kelabu. Jadi bikin aku semakin sendu. Kapan kamu mau pakai gaun merahmu lagi? Aaaah, ini masih hari keenam belas tapi kenapa sudah seperti akhir bulan saja? Aku sesak menunggu kehadiranmu, wahai uangku.

Tertanda,
Pemilik dompet

Minggu, Februari 15, 2015

Sebuah Surat untuk Tuan

Teruntuk:
Tuan yang dimaksudkan di dalam sebuah surat usang

Salam kenal, Tuan. Saya tahu, Tuan pasti terperangah, terkejut, atau malah memandang heran dengan kedua alis yang saling bertaut. Ya sedikit banyak saya bisa membayangkan wajah Tuan ketika membaca surat ini. 

Kita memang tidak saling kenal Tuan. Tapi tenanglah, saya bukan seorang preman atau seorang penagih utang yang ingin memeras Tuan. Saya hanyalah seorang mahasiswa yang secara tidak sengaja menemukan selembar surat usang terselip di sela halaman buku yang saya pinjam di perpustakaan. Tidak ada nama atau pun alamat tujuan. Hanya sebuah surat dengan bahasa yang lugas nan indah, Tuan; sayang jika tidak terkirimkan dan tidak tersampaikan.

Namun, saya bingung Tuan, harus mengirimkannya ke mana. Maka dari itu, saya menghantarkannya melalui sebuah surat pengantar dengan lampiran surat usang yang akan dikirimkan oleh seorang kangpos cantik bernama @iitsibarani_. Semoga di mana pun Tuan berada, surat usang yang terlampir di sini dapat sampai di hadapan Tuan. Dan semoga Tuan tahu siapa yang mengirimkannya dan segera menghampiri dia yang setia menunggu Tuan.

Untuk Tuan yang di sana..
Tuan memang pernah pergi, namun sekarang Tuan telah kembali
Aku memang pernah tersakiti, namun kini kuingin memulai lagi
Sebuah kesalahan itu wajar, Tuan
karena tak ada manusia yang sempurna tanpa noda
Mungkin memang kesalahan itu tak akan pernah terlupakan karena bekasnya tetap singgah
Namun sudahlah..
Biarkan yang lalu menjadi masa lalu
jadikan bekas itu sebagai pemandu
untuk berusaha menjadi lebik baik
tiap hari, terus membaik
Lupakan semua tentang masa lalu itu
dan aku tak akan mengungkit kesalahan yang dulu
Mungkin memang ketakutan itu wajar, Tuan
hanya saja jangan gunakan ketakutan sebagai penghalang
majulah, berusaha untuk berubah
mengubah masa depan bersama.
Sudah kuberikan kesempatan kedua
dengan gelas yang tak lagi pecah
Jagalah...
Isilah dengan sesuatu yang indah
pun manis
sampai akhirnya habis
ruang kosong di gelas itu.
Mari Tuan, kita berjalan
membangun rumah yang kokoh
merajut kembali yang pernah terputus
menyusun cerita baru yang tak akan pupus
Mengusahakan yang terbaik jika ingin mendapat yang terbaik
Semoga Tuhan merestui dan memberkati jalan kita, Tuan 
Salam,
Aku yang menyayangimu

Demikianlah isi surat itu Tuan. Indah bukan? Saya harap perasaan dia yang mengirimkannya sampai pada hati Tuan. Sekian dari saya. Semoga Tuan dan dia memiliki akhir yang benar-benar bahagia.


Tertanda,
Penemu surat usang

p.s: jikalau surat ini telah sampai di hadapan Tuan, tolong kirimkan sebuah surat balasan. : )

Sabtu, Februari 14, 2015

Teruntuk yang Terkasih



Malang, kota penuh kenangan
Hari keempat belas Bulan dua Tahun dua puluh lima belas

Teruntuk yang terkasih,
Seorang Puan dan Seorang Tuan yang pertama dalam hidupku

Puan dan Tuan, surat ini ialah surat cinta pertama yang saya tujukan kepada kalian. Mungkin kalian merasa heran, mengapa aku memberikan surat cinta untuk kalian, bukan kepada sang pasangan. Saya hanya ingin memanfaatkan momen penuh kasih sayang ini untuk sekedar menuturkan semua perasaan saya. Namun saya tidak cukup berani untuk langsung mengirimkannya sampai di hadapan. Biarkan saya tuliskan apa yang saya rasakan dan biar semesta yang menyampaikan apa yang selama ini terus tersimpan.

Puan dan Tuan, kalian tentu tahu bahwa saya bukan jenis orang yang dengan mudahnya mampu lafalkan cinta di hadapan kalian meski hanya sebuah bisikan. Seringnya lidah saya kelu bibir pun membeku. Akhirnya hanya bisu yang mampu saya ramu. Meski begitu, saya yakin sepenuh-penuhnya bahwa Puan dan Tuan bisa membaca saya bak buku yang terbuka. Saya percaya sebenar-benarnya bahwa kalian paham akan cinta yang tak jarang kudustakan saya simpan meski bukan sekali atau dua kali saya bersikap begitu menyebalkan. Semoga secarik surat cinta ini mampu menyampaikan apa yang tidak mudah saya utarakan.

Kepada Puan,
engkau wanita berharga yang pernah saya punya. Kuatmu, lembutmu, cintamu, marahmu, bahagia, dan sedihmu melebur satu dalam tubuh seorang ratu. Kasihmu yang tak terhingga, tak pernah luntur meski hujan terus saja mengguyur seiring dengan gemuruh Guntur. Sayangmu yang begitu tulus tak pernah terputus dari setiap doa yang mengalun halus. Cintamu yang agam bak tebing di tepian segara, tak kunjung pupus meski ombak terus menggerus. Bahkan semesta pun tahu, tidak ada dan tidak akan pernah ada yang mampu menyamai cinta yang bersemayam di hatimu. Terima kasih telah menjadi Puan pertama dalam hidup saya yang mengajarkan bagaimana untuk berdiri tegar namun penuh dengan kelembutan. Terima kasih atas kudapan dan santapan yang selalu memanjakan lidah kecil saya. Terima kasih untuk sabar yang engkau hadirkan meski saya hantarkan tengkar. Terima kasih untuk asih setiap saya sampaikan kesah. Dan maaf Puan. Maaf untuk tetes-tetes air yang telah jatuh dari mata indahmu. Maaf untuk koar amarah yang sempat keluar dari bibir ranummu. Maaf untuk sayatan luka yang membekas di hati lembutmu. Saya mencintaimu Puan, setulus yang saya mampu.

Kepada Tuan,
Engkau pria terkuat dan tertampan yang pernah saya miliki. Gagahmu, lemahmu, semangatmu, letihmu, senyummu, dan peluhmu begitu padu dalam tubuh seorang raja. Bijaksanamu yang bulat penuh, tak pernah runtuh meski bulan tinggal separuh. Kuatmu yang selalu kokoh, tak pernah roboh meski kadang Tuan berjalan tergopoh-gopoh. Banggamu yang cegak bak pualam, tak kunjung surut meski dunia mulai carut marut. Bahkan bumi dan langit pun paham, tidak ada dan tidak akan pernah ada yang mampu menyamai kebanggaan yang terpahat dalam hatimu. Terima kasih telah menjadi Tuan yang pertama dalam hidup saya yang mengajarkan bagaimana untuk selalu kuat demi ikatan bernama keluarga. Terima kasih atas perlindungan dan didikan yang kau tanamkan di tempurung kepala. Terima kasih untuk senyum yang engkau berikan meski saya haturkan amarah. Terima kasih untuk aman serta nyaman ketika saya membawa luka. Dan maaf, Tuan. Maaf untuk pukulan yang pernah datang dari jemarimu. Maaf untuk sedih yang sempat terpancar dari sepasang bola matamu. Maaf untuk tusukan perih yang pernah mengiris hatimu. Saya menyayangimu Tuan, sebesar yang saya punya.

Kepada Puan dan juga Tuan pertama dalam hati saya,
Kalian ada anugerah terindah yang Tuhan berikan selama hidup saya. Terima kasih untuk semua tawa, tangis, bahagia, serta semua rangkaian kisah yang Puan dan Tuan hadirkan. Mungkin tak lama lagi sudah tiba masanya saya melepas masa lajang. Doakan saya agar tegar, lembut, dan penuh cinta seperti Puan juga kuat dan bijaksana seperti Tuan. Saya akan selalu menjadi gadis kecil kalian, tak peduli seberapa tua usia saya sekarang. Dan maaf jika saya sampai detik ini masih belum menjadi gadis kecil yang begitu berbakti pada Puan pun Tuan. Saya mencintai kalian, sedalam hati saya.

Salam penuh cinta dan sayang,
Saya
Gadis kecil kalian yang masih berusaha membahagiakan.

Jumat, Februari 13, 2015

Dari Bintang Kepada sang Awan



Tertuju kepada
Sang Awan di Hamparan Lazuardi

Dulu, di dalam luasnya sang Lazuardi, di sanalah pertama kali aku menemukanmu. Aku dengan ingin tahuku dan kerlipan nakalku terus memandangimu tanpa sedikit pun merasakan jenuh. Begitu lekat, kupandangi engkau tamat-tamat dengan penuh minat setiap kali engkau lewat. Dengan sedikit menumbuhkan harap bahwa engkau akan mulai balas melihat.

Sang Kala pun beranjak menjauh, namun aku tetap pada masaku, tetap dalam diamku; hanya berani mencuri pandang dari jauh. Tak kunjung bosan aku menatap meskipun cuma sekejap. Tapi tak sedikitpun, tak sekalipun—sejak pertemuan pertama kita—aku berani lancang memikirkan kata “kelak” dan “kita”. Karena aku mafhum, mencintaimu (dulu) tak pernah semudah menggantung angan. Karena ada Bulan si ratu Malam dan seorang Puan di atas Bumi yang selalu menyimpanmu dalam ingatan; serta seruan rindu yang tak putusnya mereka lafalkan. Aku paham, Awan.

Pernah terlintas padaku, bagaimana jika aku mundur saja dan menyerah; bagaimana jika aku melihat dengan tabah dari balik celah; serta rentetan bagaimana jika yang terus memenuhi daftar kepalaku. Biar saja aku hilang ditelan oleh sang Pekat agar tak lagi berkelip cepat. Biar saja Bulan atau seorang Puan yang merapatkan sauhnya dan beristirahat di daratan hatimu. Dan biar saja aku menjadi kenangan yang hanya terlewat tanpa pernah sedetik pun tertambat.

Karena aku sadar, Awan, bahwa kita adalah beda. Aku dengan redupku, engkau dengan mendungmu. Aku dengan kejoraku, dan engkau dengan putih cerahmu. Namun apakah kau tahu, Awan? Tak pernah aku menyana, bahwa kau membiarkan aku menang memiliki sosokmu dan juga hatimu; utuh. Perlahan engkau membangunkan sebuah kesadaran bahwa beda tak ubahnya hanya kumpulan aksara yang membentuk sebuah kata tanpa secuilpun makna harus berpisah. Karena beda tetaplah KITA. Kita yang tak ada tanpa berdua; kita yang menghilang jika tidak bersama. Kita yang melebur semua beda dan tetap merajut serat-serat asa. Kita yang saling mengaminkan dalam kumpulan doa pada Semesta. Kita yang mengharap restu dari sang Maha untuk tidak terpisah. Kita yang saling melantun rindu dalam buaian sang Lazuardi yang biru. Kita yang berhasrat menjadi satu, padu di hadapan sang Surya.

Bolehkah jika aku sekarang berpikir tentang kelak dan kita, Awan?

Dengan kerlipan penuh cinta
Sang Bintang Kejora di Lazuardi malam

Kamis, Februari 12, 2015

Sampai Jumpa Lagi



Kepada:
Kakek dan Nenek kami yang telah pergi

Dalam diam kalian menghilang. Dalam sepi kalian pergi. Tanpa sedikit kata salam untuk sekedar berpamitan dan mengucap sebuah perpisahan. Melebur kalian dengan senyap, meninggalkan kami yang masih terlelap. Sesaat kami termangu, melihat tubuh kalian yang telah mulai membiru. Seketika kami berdiri, terpaku, membatu. Sekejap saja kalian mampu mengubah riang kami menjadi irama sendu yang mengalun bersama setumpuk rindu. Sebentar saja kalian mampu mengubah harap kami menjadi setumpuk abu yang tertiup menjauh. Belum lama, begitu pikir kami. Begitu singkat, begitu gumam kami. Tapi apa boleh kami berkata, karena waktu kalian telah berhenti. Bisu dan isak pilu silih berganti mengiringi irama sedih yang terus saja menyayat hati. Tapi kami bisa apa? Karena kami sadar sebetul-betulnya bahwa pergi kalian ialah melepas lara meski menyisakan sebuah luka menganga berujung duka.

Belum sempat bibir kami menuturkan kata, melafalkan nama serta ribuan maaf yang ingin kami ucap. Belum sempat mata kami menjatuhkan airnya, merangkai rasa yang perlahan menjadi nyata. Meski tak sempat kami berkata, dan belum juga air jatuh dari mata, sedih telah perlahan ada dan merajam hati kami dengan peluru bertimah. Kami mencintai kalian sedalam-dalamnya hati kami, seutuh-utuhnya raga kami, sebenar-benarnya lafal kami. Namun, sepertinya Tuhan lebih mengasihi. Selamat tinggal, Kakek dan Nenek kami tercinta. Bukan, sampai jumpa. Tunggu kami di sana sampai akhirnya kita bisa bersama (lagi) sebagai keluarga.

Dari Kami
Cucu kalian yang mengantar pergi