Sibuk sibuk sibuk..
udah tiga bulanan ini sibuk mulu tiap hari. semua ini gara2 PPL (program perploncoan di lapangan). banyak banget tugas yang harus digarap dan laporan-laporan yang kudu dikumpulin di akhir kegiatan. daaaannnnnnnnnnn...
seperti biasa, procrastinating. pada akhirnya selalu ribet di akhir gara2 gak nyicil semua tugas itu mulai awal kegiatan. dafuq..
capek tiap hari. tidur gak teratur, makan juga. begadang hampir tiap hari tapi tugas masih aja numpuk. belum lagi menjamah skripsweet yang udah kudu dikelarin juga. what a life!
capek hati, capek fisik, capek pikiran. hmm lengkap banget *mulai lebay
tapi tetep aja, jangan sampe semua lelah ini terbuang percuma. jangan sampe terlalu lama terjebak stress. kudu tetep maju kan biar cepet kelar? *motivasi diri sendiri*
ayo perjuang sampai titik darah penghabisan.
P.S: pake high-heels seharian terus berdiri lama dan berjalan jauh itu sangat menyiksa....
Minggu, Oktober 21, 2012
Rabu, September 26, 2012
Sedikit Lagi Waktu
“Kenapa kamu selalu memaksakan kehendakmu? Tidak bisakah
kamu mendengar pendapatku?” teriak seorang pria kepada wanitanya.
“Ingat, selama ini aku sudah sering menurutimu dan mengalah.
Tidak ingatkah kamu ketika kamu lebih memilih menonton bola bersama teman-temanmu
dibanding menemaniku sendirian di rumah?” timpal wanita itu.
“Bukankah aku sudah menjelaskan tentang itu? Sudah pernah
kita bahas kan sebelumnya? Kenapa dibahas lagi?”
“Ah, sudahlah. Aku lelah. Terserah kamu saja,” akhirnya
wanita itu pun menyerah dan melangkah pergi dengan air mata yang sedari tadi
disembunyikannya.
-Right in the thick of
love, At times we get sick of love. It seems like we argue everyday-
***
Bukan kali ini kami bertengkar. Ini sudah kesekian
kalinya semenjak dua tahun yang lalu kami menikah. Orang bilang adu argumen itu
hal biasa, terlebih lagi usia pernikahan kami masih seumur jagung. Kami masih
sama-sama egois, masih sama-sama ingin menang sendiri.
Aku bertemu suamiku tiga tahun yang lalu. Dan di
pertemuan pertama kami, dia sudah mampu mencuri cintaku. Kala itu, dia selalu
mampu membuat hari yang biasa menjadi luar biasa. Seolah keindahan semesta
terkalahkan oleh keindahan cinta dua orang manusia yang dimabuk asmara. Memang
ketika jatuh cinta semua menjadi indah, bahkan ada cerita tai kucing pun berasa
coklat. Semua seolah akan baik-baik saja.
Cerita tentang masa depan pun mengalir sempurna.
Bagaimana kau ingin memiliki rumah di suatu kota yang sejuk. Betapa aku ingin
menghiasinya dengan taman yang penuh bunga. Betapa kita ingin mewujudkan
kebersamaan kita. Namun, lihatlah kini, dua tahun sudah sejak ijab perjanjian
nikah yang kau ucapkan dan kita masih butuh lebih banyak belajar menerima semua
kekurangan.
--I know I misbehaved. And
you made your mistakes. And we both still got room left to grow--
Sudah dua hari berlalu sejak argumen kita yang lalu.
Dan sudah dua hari ini aku singgah di rumah orang tuaku. Begitulah aku, masih
kekanak-kanakan. Selalu mencari jalan pulang ketika kami memiliki masalah yang
belum terselesaikan. Tahukah kamu, Sayang? Di dalam sendiriku ini, aku selalu
memikirkanmu. Tak kuingkari khawatirku selalu menyerbu. Sudah makan kah kamu?
Bagaimana tidurmu semalam tadi? Tapi egoku masih tidak mau mengalah. Aku pun
terlalu malu untuk menghubungimu.
***
Fajar menyingsing. Dia muncul dari peraduannya
semalam. Sinarnya menghangatkan bumi dan seisinya. Kulihat layar handphoneku. Sebuah pesan baru
masuk di nomorku. Sebuah pesan dari nomor yang aku kenal dan selalu aku hafal sejak
tiga tahun lalu.
From: +62812***
Sayang, pulanglah. Aku merindumu. Sepi rumah kita
tanpa ada kamu di dalamnya.
Salam rindu, suamimu.
Sebuah pesan singkat yang mampu meluluh-lantakkan
semua egoku. Sebuah pesan singkat yang menghangatkan hatiku, mengalahkan
hangatnya mentari pagi ini. Dan aku pun tak sanggup lagi untuk tidak membalas
pesan itu.
To: +62812***
Jemput aku. Aku merindumu.
Salam sayang, istri yang memikirkanmu.
Tak lama setelah kukirimkan pesan singkat itu,
terdengar deru mobil di depan rumah orang tuaku. Ternyata, dia langsung
menjemputku begitu menerima pesanku. Dia, suami yang aku cintai. Aku sambut pria pujaanku itu di depan rumah. Kupasangkan
senyum terindah yang aku punya.
Tersenyum pula ia sembari memelukku hangat. Sebuah
pelukan yang biasa dia berikan ketika kami bersama dan tak terasa aku begitu
merindukan pelukan ini. “Maafkan aku, Sayang. Jangan pergi lagi, ayo kita
selesaikan semuanya dengan baik-baik,” dia berucap dan mengecup keningku
hangat.
“Iya, aku minta maaf untuk keegoisanku kemarin,
Sayang. Maaf sudah terlalu keras kepala.”
“Pun aku begitu. Kita benahi semuanya perlahan-lahan.
Memang mungkin kita membutuhkan sedikit lagi waktu. Aku yakin kita bisa
melaluinya bersama. Aku yakin.”
--And though love
sometimes hurts..I still put you first..And we'll make this thing work..But I
think we should take it slow--
Ya, mungkin kami memang masih butuh sedikit waktu.
Sedikit lagi waktu untuk belajar saling memahami, belajar mengalah dan
mengerti. Sedikit lagi waktu untuk tumbuh. Mungkin akan ada lagi adu argumen
yang berikutnya, namun di situlah kami belajar berkembang. Mungkin akan ada
lagi saat-saat aku melangkah keluar dari pintu rumah itu, namun bukan berarti
aku menyerah dan meninggalkan pergi. Mungkin akan ada lagi saat-saat di mana
dia harus menjemputku pulang, dan di sinilah kami akan berjuang. Ya, sedikit
lagi waktu, tidak perlu terburu-buru.
Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby youuuu and I
Sabtu, September 22, 2012
Ketika Harapan Hanya Semu
“Vodka, please,” pintaku pada seorang bartender. Dia
mengangguk sejenak dan segera menuangkan vodka yang aku pinta. Disodorkannya
satu shot vodka itu. Ya, di sinilah aku sekarang, terdampar di sebuah bar yang
sudah cukup lama aku lupakan. Duduk dengan one shot of vodka di hadapanku.
Mungkin kau terheran-heran, mengapa aku bisa kembali terdampar di sini. Namun,
sebenarnya wajar saja kan jika aku ingin merasakan hangatnya alcohol di dalam
kerongkonganku yang kering karena ada masalah yang menghampiriku.
Sebenarnya aku malu pada diriku sendiri, orang yang dulunya
tegar dan angkuh sepertiku bisa merasakan sakit hati yang amat sangat hanya
karena seorang wanita. Haha, baru kali ini aku tidak bisa mendapatkan apa yang
aku inginkan. Lizzie, nama wanita itu. Seorang wanita yang entah datang dari
mana dan entah bagaiman mampu mengubah hidupku.
---
“Permisi, bisa saya bertemu dengan bapak Reza?” tanya
seorang perempuan kepada seorang sekretaris di depan sebuah ruangan kantor.
“Sudah ada janji sebelumnya?”
“Sudah.”
“Dengan ibu siapa ini? Biar saya sampaikan kepada pak Reza.”
“Lizzie, dari pihak advertising yang akan membicarakan
proyek real estate,” ucap wanita itu kalem.
“Baik, tunggu sebentar ya Bu.”
---
Terdengar ketukan di pintu kantorku, dan di sinilah pertemuanku
dengannya terjadi pertama kali. Seorang wanita yang anggun dan jelita.
Penampilannya tidak begitu ‘wah’, tapi tetap enak dipandang mata. Kulitnya
putih, dan terlihat sehalus sutera. Mungkin begitu rasanya jika aku
menyentuhnya. Ah, jadi ingin menyentuh tangannya. Pipinya berseri dan bibirnya
merah merekah. Bak seorang bidadari yang turun dari peraduannya.
“Selamat pagi, pak. Saya Lizzie dari pihak advertising yang
akan menangani proyek real estate Anda.”
Suaranya mengalun begitu lembut, bagaikan nyanyian surgawi.
Aku begitu terpesona padanya. Kulihat matanya yang bening menatapku, perlahan
mengernyitkan keningnya. Ah, ya, aku lupa menimpali kata-katanya.
“Ehem, iya. Bagaimana dari pihak Anda? Apa sudah ada konsep
tentang advertising yang bisa saya lihat?” aku berusaha seprofesional mungkin
menutupi rasa gugup ku. Entahlah, baru kali ini aku merasa gugup di depan
seorang wanita.
Dia mulai menjelaskan konsep yang telah dia buat dan dia
semakin membuatku terpesona. Kata orang, wajah berbanding terbalik dengan
kepandaian seseorang. Namun, tidak pada wanita di depanku ini. Dia begitu
sempurna.
“Bagus. Saya menyukai konsep yang telah Anda buat. Mungkin,
bisa Anda kembangkan dan kita lihat perkembangannya.”
“Baik, pak.”
---
“Maaf, pak saya sedikit terlambat sehingga membuat bapak
menunggu. Tadi jalanan macet tidak karuan,” Lizzie meminta maaf dengan wajahnya
yang terlihat begitu menyesal.
“Iya, tidak apa-apa. Tapi, tidak susah kan menemukan rumah
makan ini? Oh iya, sekali lagi, sudah aku bilang berkali-kali jangan
memanggilku ‘pak’, panggil saja Reza dan jangan terlalu formal dengan
menggunakan kata saya,” kataku panjang lebar.
“Ehm, harus mana dulu yang aku timpali?” Dia diam sejenak
dan kemudian melanjutkan, “tidak sulit menemukan rumah makan ini. Dan baik, aku
tidak akan terlalu formal, Reza.” Senyumnya mengembang. Senyum yang paling aku
sukai.
Ini pertemuan kami yang kesekian kali dan sudah beberapa
kali ini bertemu di luar kantor. Dia wanita yang menyenangkan dan berwawasan
luas. Tak kurang, dia juga begitu baik kepada semua orang. Dia selalu bisa
membuatku terperangah kagum.
Bukan sekali ini aku berusaha mengajaknya makam siang
ataupun malam dengan dalih pekerjaan. Nampaknya, dia sudah tahu intensiku, tapi
dia diam saja dan menikmati semuanya. Ini yang membuatku semakin jatuh
terhadapnya. Mungkin memang aku memiliki harapan. Aku menginginkannya, dan aku
akan mendapatkannya. Aku merasa penuh dengan harapan. Dan semuanya, ia yang
berikan.
---
Semuanya berjalan dengan lancar, dan aku pun semakin dekat
dengan Lizzie. Sudah banyak hal yang aku bagi dengannya, termasuk kisah
kehidupan pribadiku. Tapi tak lama lagi kerja sama kami akan segera usai. Hal
ini membuatku tak nyaman. Entah ada dorongan dari mana, aku memutuskan untuk
mengungkapkan apa yang aku rasakan pada Lizzie, wanita yang membuatku gila
setengah mati.
“Hai Reza. Sudah lama menunggu?” tanya Lizzie padaku.
“Aku baru tiba lima menit yang lalu,” ujarku sedikit
berbohong. Sebenarnya aku sudah tiba hampir setengah jam lalu. Apa yang
mendorongku untuk datang seawal itu juga aku tidak tahu. Konyol.
Musik mengalun merdu melatar-belakangi malam di restoran
Jepang ini. Sebuah lagu yang terdengar sendu mengalir lembut menemani
kebersamaan kami.
“Liz, boleh aku mengatakan sesuatu? Sudah lama aku ingin
mengatakan ini padamu,” aku sedikit gugup ketika mengatakan ini.
“Silahkan saja.” “Kau tahu, aku belum pernah merasa seperti
ini. Tapi semenjak kau hadir dan menemani hariku aku merasa ada yang berubah.
Aku seolah gila dan tak sanggup menjalani hari tanpa kehadiranmu. Dan mulai
esok perjanjian bisnis kita telah usai. Jika mungkin, aku masih ingin bersama
denganmu. Maukah kau menjadi kekasihku?”
Dia terperangah, antara takjub dan terkejut. Dipalingkan
wajahnya sejenak, seolah berusaha menyembunyikan keterkejutan yang mampir di
parasnya yang rupawan. Sedetik kemudian, dia menatapku dalam. Terlihat olehku
segurat kecewa, pun kesedihan. Apa, ini? Bukankah selama ini dia terlihat
nyaman denganku? Mengapa dia menampakkan ekspresi seperti itu?
“Reza, terima kasih atas rasa yang kau berikan kepadaku.
Namun maaf, sungguh minta maaf aku tidak bisa memenuhi permintaanmu,” ucapnya
sedikit ragu.
“Kenapa? Apa ada yang salah denganku? Bukankah selama ini
kita baik-baik saja? Lalu, apa arti kebersamaan kita selama ini? Apa kamu sudah
menyukai pria lain? Tambatan hati, iya?”
“No, no. There is nothing wrong with you. And I did enjoy my
time with you. Dengarkan dulu, aku tidak bisa menerimamu bukan karena aku
menyukai pria lain. Terlebih lagi, it is because I cannot love another guy.”
“Apa maksudmu?”
“Aku lesbi,” dia menghela napas panjang sebelum akhirnya
menundukkan kepalanya. “Maaf.”
Perlahan, dia beranjak dari kursinya dan melangkah pergi.
Doushite kimi wo suki ni natte shimattan
darou?
Donna ni toki ga nagaretemo kimi wa zutto
Koko ni iru to, omotteta no ni
Demo kimi ga eranda no wa chigau michi
Why
did I end up falling for you?
No
matter how much time has passed,
I
thought that you would always be here
But
you have chosen a different road
---
Di sinilah aku sekarang. Menatap vodka yang disuguhkan
kesekian kalinya. Ya, aku telah jatuh hati pada wanita yang bahkan tidak bisa
mencintaiku. Semua harapan yang sempat ia berikan padaku dulu, sekarang telah
mati.
-DBSK- Doushite Kimi wo
Suki Ni Natte Shimattan darou?-
Kecupan Rasa Espresso
Secercah sinar keemasan masuk entah darimana, menyinari Mata
yang masih terpejam.
“Selamat pagi.” Telinga mendengar sebuah suara dari
kejauhan. Suara yang aku kenal dan selalu aku rindukan. Mata membuka kelopaknya
perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan terang di dalam ruangan.
“Selamat pagi, Sayang.” Bibir berucap membalas salam hangat
dari yang aku rindukan. Sebuah kecupan ringan mendarat di Dahi pemilikku.
Sebuah kecupan dari orang yang aku rindukan, kekasih pemilikku. Ya, aku adalah
Hati, yang dimiliki seorang wanita bernama Freya. Perjalananku cukup panjang
sampai akhirnya menemukan sebuah tambatan. Asal kau tahu saja, pemilikku adalah
seorang wanita yang keras hati. Terlalu kuat dia melindungiku untuk tidak
terluka karena pernah dia rasakan sakit yang begitu dalam karena luka yang ada
padaku.
---
Can
anybody hear me?
Am I
talking to myself?
My
mind is running empty
In
the search for someone else
Who
doesn’t look right through me.
It’s
all just static in my head
Can
anybody tell me why I’m lonely like a satellite?
“Permisi, boleh saya duduk di sini?” Seorang pria datang menghampiri
Freya yang sedang asik melahap buku favoritnya di sebuah kafe kesukaannya.
Mengernyitlah dahinya, merasa terganggu dengan kehadiran pria itu. Aku tahu dia
tidak akan menyukai ini karena dia bukan tipe orang yang mudah bergaul. Dia
suka menyendiri dan lebih memilih bersembunyi di balik buku daripada
berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi seorang pria asing. “Bolehkah
saya duduk di sini? Maaf jika menganggu, tapi tempat duduk yang lain sudah
penuh, dan saya lihat bangku ini kosong. Jadi, bisakah saya bergabung?”
Freya memandang sekeliling dan melihat bahwa semua bangku yang kosong
itu sudah terisi. Tidak lagi dia punyai sejuta alas an untuk menolak pria itu.
Memang, di waktu-waktu makan siang, kafe ini selalu penuh. Tapi biasanya tidak
pernah sepenuh ini. Padahal pemilikku hanya ingin menikmati hari ini,
sendirian. Entah bagaimana dia terbiasa dengan kesendirian, sebenarnya aku
merasa cukup kesepian.
Akhirnya, Kepala mengangguk
dengan tidak ikhlas, isyarat memperbolehkan pria itu bergabung dengan Freya.
“Terima kasih,” ucap pria itu.
Hening. Beginilah Freya ketika bersama dengan orang yang tidak dia
kenal. Lebih banyak diam dengan pikirannya. Benar-benar antisosial.
“Buku itu cukup menarik.”
Hmm, gigih juga pria ini untuk
membuat pemilikku membuka sedikit pertahanannya. Sudahlah, menyerah saja.
”Maaf?” hanya satu kata yang terucap dari bibir pemilikku. Entah memang
dia tidak mendengar atau hanya ingin memberikan isyarat ‘jangan ganggu aku’.
“Buku itu,” ucap pria itu sambil menunjuk buku yang Freya bawa.
“Ceritanya menarik. Aku sudah membacanya bahkan berkali-kali.”
“Kau yakin sudah pernah membaca buku ini?”
“Tentu saja. Itu tentang perjalanan seseorang di surga kan? Five People Meet in Heaven karangan
Mitch Albom kan? Apa kau meragukan aku”
“Ya, kau benar. Aku menyukai buku ini dan aku heran ada seorang pria
yang menyukai buku ini juga. Karena itu, aku sedikit terkejut mendengar
pernyataanmu tadi.”
Dan aku juga terkejut mengetahui pemilikku mau membuka sedikit
pertahanannya pada pria ini. Tampaknya, ini akan berlanjut lagi.
--
Benar saja, kedekatan pemilikku dengan pria (yang dulunya asing) yang
ternyata bernama Eros memiliki keterlanjutan. Nama yang unik, kuakui, untuk
seorang yang juga unik dan penuh cinta. Tak kusangka pertahanan yang dipasang oleh pemilikku
perlahan-lahan luruh dan kini, aku hampir tidak memiliki sebuah tembok pun
mengelilingi keberadaanku. Aku, Hati yang selama ini terlindungi, telah dibuka
kembali.
“Espresso, satu,” kudengar pria itu memesan minuman seperti biasanya.
“Vanila latte, satu.”
“Kau begitu menyukai espresso ya? Setiap datang kemari kulihat kau
memesan minuman yang sama.”
“Sama seperti kau yang selalu memesan vanilla latte kesukaanmu.”
Ya, aku tahu jawabnya. Karena
wanita ini, pemilikku, tidak terlalu menyukai perubahan. Dan karena itulah aku
heran, bagaimana dia bisa menerima bergitu banyak perubahan setelah mengenalmu,
tuan.
“Itu karena aku suka sesuatu yang berbau vanilla, dan aku cukup
menyukai kopi. Jadi, aku berusaha mencari gabungan keduanya,” timpal Freya.
Hari ini, seperti biasanya selama sekian minggu, mereka menikmati siang
bersama. Memesan kopi kesukaan mereka dan berbagi banyak cerita. Sepertinya
bahkan pemilikku sudah berbagi hati dengan pria itu karena aku merasakan
kehangatan yang merasuk setiap mereka bersama.
Bibir kini mampu tertawa lepas setiap candaan yang diberikan Eros menggelitikku. Bahkan Mata sampai menitikkan air karena tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba keheningan menyeruak. Tangan merasakan sebuah sentuhan lembut dari
tangan milik pria itu. Dan kehangatan lagi-lagi menyelubungiku.
“Aku merasa senang menghabiskan waktu bersamamu. Kau tahu, sejak hari
pertama kita bertemu, aku merasakan kenayamanan yang luar biasa. Entah
bagaimana, seolah aku sudah mengenalmu sekian lama. Sejak itu, setiap detik
bergulir, pikiranku melayang melambung memikirkanmu. Wajahmu dan semua
tentangmu tak bisa aku enyahkan sedetik pun.”
Dia berhenti sejenak, dan aku seolah berhenti berdetak. Paru-paru
sedikit sesak karena kata-kata indah yang pria itu sampaikan.
“Sejak itu, aku ingin menghabiskan semua hariku bersamamu. Maukah kau
menjadi kekasihku?” pinta pria itu pada pemilikku.
Bibir hanya diam. Pemilikku ragu, mungkin akulah yang ragu. Aku masih
takut merasakan sakit lagi. Tapi aku juga tak ingin kehilangan kehangatan ini.
Berperanglah aku dengan Otak. Dan akhirnya, aku telah memutuskan.
Can
I please come down?
‘Cause
I’m tired of drifting round and round.
Can
I please come down?
“Iya,” ucap Bibir, diikuti dengan anggukan Kepala.
Sebuah kecupan mendarat di Bibir dan lagi, kehangatan yang tak
terlukiskan menyelimuti aku lagi. Inilah yang selama ini aku cari di dalam
kesendirian. Sebuah kehangatan yang mengusir sepi dan mampu meruntuhkan pertahanan aku, sebuah Hati milik Freya.
Sebuah kecupan rasa espresso telah menghapuskan semua rasa
sakit yang pernah ada. Kecupan rasa espresso itu masih membekas lama. Pahit pun
manis terasa bersamaan. Mungkin, inilah cinta. Seorang lelaki (yang dulunya
asing) telah mampu memenuhi semua ruang yang aku punya.
---
"Ini, vanilla latte kesukaanmu, Sayang," pria itu menyodorkan sebuah cangkir kepada Freya dan kemudia dia menyesap espresso kesukaannya. Freya pun menyesap kopinya dan menikmati kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
Sebuah kecupan mendarat lembut di Bibir. Sebuah kecupan rasa espresso yang selalu aku sukai, pun dirindukan pemilikku.
Senin, September 17, 2012
Sang Perempuan dan Dia
Hai, apa kabarmu? Aku harap kamu baik-baik saja hari ini dan
semoga kamu sedang dalam mood yang menyenangkan karena aku akan menceritakan
sebuah kisah sederhana seorang perempuan dan yang mencintainya. Jadi,
santailah, bawa camilan dan segelas kopi untuk menemanimu. Sudah siap
mendengarkan ceritaku? Siap kan hati dan pikiranmu untuk menikmati kisah ini.
Kala itu, musim panas di tahun 2009. Suatu sore di bawah hangatnya sinar mentari bulan Juni, seorang perempuan berjalan masuk ke dalam sebuah toko buku tua. Wajahnya berseri dan terlihat begitu ceria. Seolah semua keceriaan sore itu telah diserapnya. Berkelilinglah ia menyusuri lorong-lorong yang diciptakan oleh rak-rak buku. Dan di sanalah, di salah satu baris rak buku tua, pertemuan pertama mereka terjadi, bersuanya seorang perempuan dan Dia pertama kali.
Jika kamu ada di antara mereka, mungkin kamu akan mengerti bagaimana rasanya takdir mempertemukan mereka. Dari beberapa pasang mata yang ada, Dia memilih untuk menatap mata indah sang perempuan. Dan dari beberapa hati yang hadir, di hati sang perempuan lah hatinya Ia tambatkan. Mungkin kamu menganggapnya konyol, tapi tunggu dulu. Memang itulah yang terjadi. Mereka bersua pertama kali dan di pertemuan pertama itu pula, Dia memutuskan untuk mencintainya sepenuh hati, memberikan hatinya kepada perempuan itu. Mungkin itulah yang disebut orang dengan cinta pertama. Seolah tak ada yang bisa mengalihkan pandang Dia lagi. Dia tak bisa menjelaskan apa dan bagaimana, yang Dia tahu, Dia memutuskan untuk memilih bersama sang perempuan.
Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes
I see my future in an instant
and there it goes
I think I've found my best friend
Di sinilah semuanya bermula, kisah sederhana seorang
perempuan dan Dia.
----
Juli 2009
“Ini hari pertamaku kuliah. Kuliah itu memang begitu berbeda ya dari sekolah-sekolah sebelumnya. Aku masih merasa asing hari ini. Masih banyak yang belum dan perlu aku ketahui dan pelajari lagi. Tapi, aku menikmatinya. Bertemu dengan berbagai wajah baru. Aku senang.” Cerita si perempuan panjang lebar. Senyumnya mengembang dan bertengger lama di paras indahnya. Senyumnya hangat, mengalahkan hangatnya sinar mentari musim panas. Mendengar celotehan sang putri pujaannya, Dia tersenyum. Dia menyuguhkan senyum yang tulus dari dalam hatinya.
“Aku senang kalau kamu juga senang. Dan kulihat kau begitu menikmati harimu. Dengan begini, aku tidak perlu khawatir kan?”
Sang perempuan masih terus menyunggingkan senyum cantiknya.
----
Januari 2010
“Selamat Tahun Baru,” ucap perempuang dengan riangnya. “Semoga di tahun ini semua kebaikan datang pada kita ya. Aku berharap semuanya menjadi lebih indah dan lebih baik lagi. Aku ingin tetap dan lebih bahagia dari tahun sebelumnya.”
“Iya. Semoga kau tetap berbahagia. Karena aku menyukai senyum kebahagiaanmu daripada isak tangismu.” Balasku.
---
Maret 2010
“Aku senang sekali hari ini,” perempuan memulai ceritanya seperti biasa.
“Benarkah? Aku senang kalau kau bahagia.” Dia selalu menanggapi dengan tenang. Mungkin bagi beberapa orang Dia terkesan dingin, namun sebenarnya dia begitu menyanyangi perempuannya. Dia begitu memperhatikannya. Dan Dia menikmati setiap detik kebersamaan mereka, mendengar cerita perempuannya begitu menyenangkan.
Sejenak mereka terdiam. Tapi Dia tahu bahwa perempuannya akan mulai bercerita panjang lebar menjelaskan setiap detik kejadian yang dialaminya pada hari itu. Yang Dia butuhkan hanyalah menunggu dengan sabar.
“Kau pasti tidak percaya. Ternyata di dunia ini memang ada seorang pangeran. Tadi aku bertemu dengannya. Dia ganteng sekali, pintar dan sangat baik. Tapi kebaikannya ia tujukan pada banyak orang, bukan aku saja. Entah mengapa aku kurang menyukai itu. Mungkin aku jatuh hati padanya, tapi aku tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Ah, sudahlah”
Hening. Dia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya berkata, “Jangan tidak mempercayai cinta pada pandangan pertama, cinta bukan sesuatu yang pasti dan bisa dilogika. Terkadang, kita cukup mempercayainya. Cukup percaya untuk memberikan hati pada seseorang meski masih pertama kali bertemu,” karena itulah yang aku rasakan padamu¸batinnya.
---
Mei 2011
“Wah, waktu begitu cepat berlalu ya. Aku senang bisa semakin dekat dengan pangeran itu. Hehehe,” seringai sang perempuan
“Iya, semoga kau baik-baik saja, ya,”
---
Agustus 2011
“Semakin kau dekat dengan pangeran itu, semakin sedikit waktu yang bisa kau berikan kepadaku ya. Mungkin memang aku yang jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita. Mungkin aku yang terlalu berharap agar kau mencintaiku pula.” Dia berkata dengan lirih
---
Oktober 2011
“Aku sakit hati. Dia berbohong padaku. Aku kecewa padanya. Aku sudah mempercayainya sedemikian rupa, namun dia tega membohongiku. Tidak ada bedanya dia dengan orang lain.” Ceritamu di tengah isakan tangis dan cucuran air mata.
“Sudah, jangan menangis lagi. Jika kau memutuskan untuk mencintai kau juga harus siap untuk tersakiti. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur, tenanglah,” hibur Dia pada perempuannya. Itulah yang biasa Dia lakukan ketika perempuannya bersedih. Dia merasa terluka melihat perempuannya berlinangan air mata. Jika Dia bisa, mungkin Dia akan menghajar siapapun yang melukai hati lembut perempuannya.
---
Waktu telah bergulir, tidak terasa sudah lebih dari empat tahun Dia tetap setia menemani perempuannya. Bukan pertama kalinya Dia melihat perempuannya dengan orang lain, orang yang dianggap sebagai pangerannya. Bukan sekali ini Dia merasakan kehilangan, namun di samping itu Dia tetap saja setia, karena baginya cinta pada pandangan pertama tidak bisa dihapus semudah itu. Dan kini nampaknya Dia akan kehilangan perempuannya lagi dan untuk waktu yang lama, bahkan mungkin selamanya.
“Esok aku akan melepas masa lajangku. Tidak terasa kau sudah menemaniku selama ini, mendengarkan semua cerita ku, isak tangisku, menemani hari-hariku. Terima kasih. Tapi mungkin, waktu kita akan segera berakhir, setelah ini mungkin aku sudah sangat jarang sekali berbagi cerita denganmu. Maaf, aku tidak bisa bersama denganmu.” Tulismu di halaman terakhir
“Aku turut bahagia untukmu, cinta pertamaku. Semoga kau bahagia dengan cinta pertama mu.”
Ternyata pertemuan
pertama perempuan dengan pangeran pun tidak bisa dihapuskan dengan mudah. Dan mereka
memutuskan untuk bersama, selamanya.
Begitulah cerita sang perempuan dengan
yang mencintainya, AKU, sebuah buku harian tua yang telah lama menantikan
kehadiran perempuannya. Kau lihat, cinta pertama tak akan terhapus dengan mudah
meski mungkin kau telah menemukan penggantinya.
I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life
-I Knew I Loved You by Savage Garden-
Rabu, September 12, 2012
Parting
Well I wonder could it
be
When I was dreaming ‘bout you baby
You were dreaming of me
Call me crazy, call me blind
to still be suffering is stupid after all of this time
When I was dreaming ‘bout you baby
You were dreaming of me
Call me crazy, call me blind
to still be suffering is stupid after all of this time
Sebuah lagu terdengar dari kejauhan memecah keheningan di
antara kita. Kita yang tidak tahu harus berkata apa. Kita yang mungkin mulai
hari esok hanya akan terdiri dari hanya aku atau hanya kamu, bukan lagi ada aku
dan ada kamu. Kita yang mungkin tidak akan bisa bersama lagi tepat sehari
setelah hari ulang tahunku.
“Haha, pas banget ya lagunya. Seolah semua orang tahu
tentang kisah kita saat ini,” kataku sambil tertawa. Tawaku garing dan tidak
bernyawa.
“Nggak bisa ya, yang diputer itu lagu lain, bukan yang ini?
Bikin suasana tambah suram aja,” ungkapmu sedikit sebal dan mungkin merasa
bersalah.
“Did I lose my love to someone better? And does she love you
like I do. I do, you know I really really do,” gumamku menirukan lantunan lagu
itu.
Kamu hanya diam tanpa kata melihat tingkahku yang seperti
itu. Mungkin kamu berpikir aku masih sangat kekanak-kanakan. Tapi, bisa saja
kamu membiarkanku seperti itu untuk sedikit menghilangkan rasa bersalahmu. Atau
mungkin kamu membiarkanku karena kamu tahu, dengan cara itulah aku bisa mengurangi
rasa sakit hatiku. Mungkin lebih tepatnya rasa kecewa yang mendalam. Tak
sengaja ekor mataku menangkap pandanganmu padaku. Entah apa arti dari
pandanganmu itu, tapi aku merasakan segurat kesedihan dan kekecewaan. Mungkin
kamu juga terluka. Harusnya kamu terluka karena jika tidak, jika hanya aku yang
merasakan luka ini, betapa menyedihkannya aku.
“Jadi, ini terakhir kalinya kita makan bersama?” tanyaku
padamu.
“Sepertinya begitu. Ini kencan kita yang terakhir,” jawabmu
lemah. Tiba-tiba kamu menghembuskan napas cukup keras. Entah, itu artinya apa.
“Jangan mengatakan kencan yang terakhir. Sangat menyakitkan
mendengarkannya karena berakhir dengan sebuah ironi.” Aku berusaha sekuat
tenagaku untuk menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tidak ingin menangis,
setidaknya tidak di hadapanmu. Aku tidak ingin terlihat lemah sehingga
membuatmu mengasihaniku.
“Maaf,” hanya sebuah kata itu yang meluncur dari bibirmu.
“Sudah, kamu nggak perlu minta maaf lagi. Kita kan sudah
janji untuk bisa menerima apapun keputusan hari ini. Selain itu, kamu sudah ada
dia yang menunggumu. Dia lebih membutuhkannya daripada aku. Aku masih sanggup
menjalani hidupku sendiri, sambil menunggu orang yang mau menerimaku lagi,” aku
tersenyum, tapi sangat terpaksa. Sekali lagi, kamu hanya diam. Aku yakin bahwa
kamu tahu seberapa terlukanya aku. Aku yakin bahwa kamu sangat mengerti sebuah
kata maaf saja tidak akan bisa mengubah sebuah perpisahan.
“Ya, aku sudah memilikinya,” katamu lebih untuk meyakinkan
dirimu sendiri. “Terima kasih atas kehadiranmu selama ini. Nggak ada yang bisa
menggantikan posisimu di dalam sini,” kau menunjuk dada sebelah kiri, tempat
sebuah hati yang pernah aku miliki. “Sebenarnya sangat sulit melepaskanmu
karena selama ini, secara tidak sadar kamu telah menjadi standar di dalam
hidupku. Kamu telah mengisinya dengan perasaanmu. Tapi, entah mengapa seolah
semesta terlalu cemburu jika aku memilikimu seutuhnya. Karena itulah, mereka
bersekongkol memisahkan kita. Aku sayang kamu. Tapi kita sama-sama tahu bahwa
ini tidak mungkin berlanjut”
Aku setuju dengan
kalimat terakhirmu. Kita masih saling menyayangi tapi kita juga sama-sama tahu
bahwa kita memiliki orang yang sudah menunggu kita dengan harapan-harapannya.
“ Iya. Aku permisi sebentar. Urusan wanita,” candaku sambil
memberikan cengiran khas ku. Kamu hanya tersenyum menanggapinya dan kemudian
mengangguk.
Tak lama aku kembali ke dekatmu. “Ayo,” ajakku.
Aku tak ingin terlihat menyedihkan di hadapanmu, tapi aku
tahu kalau aku tidak bisa menipumu. Kamu selalu tahu bagaimana keadaanku.
Perlahan tapi pasti kamu meraih telapak tanganku dan menggenggamnya erat. Kau
menarikku mendekat dan merangkulku, melakukan kebiasaanmu selama ini. Lucu,
kita tahu kita harus berpisah, tapi tangan kita masih akan saling terpaut
seperti ini. Entah sampai berapa lama, mungkin ini yang terakhir kalinya setelah aku tahu kau dijodohkan dengan dia.
And we were letting go of something special
Something we’ll never have again
I know, I guess I really really know
The day you went
away-M2M
Langganan:
Postingan (Atom)